Laman

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sang MAESTRO Crisye

Berangkat dari hobby bermain musik, Chrisye yang lahir di Jakarta, 16 September 1949 ini, merintis kariernya di dunia musik dengan bergabung dalam Band SABDA NADA di tahun 1968. Sebuah band yang berdiri pada tahun 1966, dengan formasi awalnya adalah Ponco Sutowo, Gaury Nasution, Joe-Am, Eddy, Edit, Roland dan Keenan Nasution. Riwayat Sabda Nada tidak berumur panjang. Grup ini bermetamorfosis menjadi GIPSY pada tahun 1969 seiring dengan perubahan para personilnya.
GIPSY awalnya digawangi oleh Gauri Nasution (guitar), Onan (kibor), Tammy (trumpet/sax), Keenan Nasution (drum), Chrisye (bass) dan Atut Harahap (vokalis). GIPSY menjadi salah satu band dari Jakarta yang cukup disegani dan memiliki peralatan paling mewah pada jamannya. Pengaruh musik Gypsi datang dari BLOOD, SWEAT & TEARS, PROCOL HARUM, KING CRIMSON, GENESIS serta CHICAGO (Chicago bukan zaman Peter Cetera, apalagi yang dengan David Foster. Chicago disini masih jaman sangar-sangarnya). Mereka sempat menggelar GIPSY CONCERT di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1970, dengan bintang tamu Mus Mualim. Di tahun 1971, formasi personil band berubah. Kali ini dengan hadirnya Adji Bandi, Lulu dan Rully Djohan. Pada tahun yang sama, GIPSY terbang ke New York dan menjadi homeband di Ramayana Restaurant selama kurang lebih satu tahun (1971-1972).

Masih di New York, Chrisye sempat bergabung dengan Band THE PRO'S dengan para personilnya adalah Broery Marantika, Dimas Wahab, Pomo, Ronnie Makasutji dan Abadi Soesman. The Pro's juga merupakan salah satu homeband yang mengisi acara di Ramayana Restaurant.
Sekembalinya ke Indonesia, Chrisye bersama GIPSY berkolaborasi dengan Guruh Soekarno Putra, membuat sebuah album rekaman. Kolaborasi ini menghasilkan album rock yang sangat luar biasa, GURUH GIPSY. Lewat album tersebut, mereka memadukan unsur-unsur tradisional gamelan Bali dan instrumen konvensional.

Selepas mengerjakan album tersebut, Chrisye memutuskan untuk bersolo karier dan menghasilkan album-album rekaman dengan materi lagu-lagu yang ditulisnya sendiri maupun oleh teman-teman dekatnya. Tahun 1977, Chrisye berhasil mempopulerkan tembang "Lilin-Lilin Kecil". Sebuah tembang karya James F. Sundah dan memenangkan Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors (LCLR). Lagu ini sempat menjadi hit kembali, ketika direkam ulang oleh Chrisye pada tahun 1992.
Berjalan dengan warna pop slow, karier Chrisye sebagai penyanyi semakin berkibar di blantika musik Indonesia. Album Badai Pasti Berlalu, Sabda Alam dan hampir semua album yang dikeluarkannya digemari dan berhasil dipasaran.

Ketika pada tahun 1986, Chrisye bereksperimen, mencoba warna musik yang agak berbeda. Hasilnya adalah album Aku Cinta Dia dan Hip Hip Hura. Album tersebut ternyata mendapat tanggapan positif, dengan terjual laris dan menjadi hit di banyak tangga terpopuler di Indonesia. Meski Chrisye sendiri merasa tidak cocok untuk membawakan lagu dengan beat (tempo) cepat, kenyataannya kedua album ini tetap mendapat respons yang baik dan berhasil memperoleh beberapa penghargaan.
Pada album selanjutnya, Kisah Cintaku, tahun 1988, Chrisye kembali kepada "warna kulitnya" yang semula. Baik pada album tersebut maupun album berikutnya, seperti Pergilah Kasih, Cintamu Telah Berlalu dan Sendiri Lagi, performance Chrisye tetap prima dan kembali meraih banyak penghargaan.
Disamping keberhasilan dalam karier sebagai penyanyi, Chrisye pernah mencoba untuk tampil di layar perak, yakni dalam film Seindah Rembulan bersama Iis Sugianto, serta sebagai bintang tamu dalam film Gita Cinta Dari SMA. Walau pernah tampil dilayar perak, Chrisye mengaku tidak pandai berakting dan bergaya, sehingga tidak jarang dalam penampilannya di televisi atau panggung, Chrisye pun tak terlalu banyak bergerak.

Satu catatan lagi dalam perjalanan karier Chrisye, video klipnya album Cintamu Telah Berlalu merupakan Video Klip Indonesia Pertama yang ditayangkan di MTV, berikutnya Video Klip untuk album Sendiri Lagi berhasil meraih Juara Pertama pada acara Video Musik Indonesia periode V yang diselenggarakan oleh TVRI. Pada tahun 1996 Chrisye mengeluarkan album dengan nuansa akustik dengan tajuk album AKUSTICHRISYE. Dilanjutkan pada awal Desember 1997, merilis album KALA CINTA MENGGODA. Sebuah tembang yang ditulis oleh kawan lama Chrisye, Guruh Sukarno Putra. Sebuah album yang memberi sejarah baru dalam peta musik Indonesia, dengan keberhasilan video klip "Kala Cinta Menggoda" meraih penghargaan di ajang MTV Video Music Award tahun 1998 yang berlangsung di Los Angeles sebagai pemenang "MTV Video Music Award Asia Viewer's Choice Award".

Tahun 2000 di bulan February Konser "BADAI PASTI BERLALU" Di JICC, kedua rangkaian konser tsb merupakan konser terbesar di Indonesia.
Tahun 2001 sukses menggelar "KONSER TOUR Legendary 2001" pada tanggal 28 April - 22 Mei 2001 yang berlangsung di 14 kota besar Indonesia disertai dengan peluncuran album 2001 dengan judul yang sama.
Di tahun 2002, Chrisye merilis album yang diberi titel DEKADE.

Pada tanggal 12 Juli 2003, Chrisye menggelar konser bersama aranjer Erwin Gutawa (yang juga bertindak sebagai produser) dengan tajuk yang sama dengan albumnya di JICC. Dan kali ini Chrisye benar-benar "menggoyang" Jakarta. Karena ia tak cuma berjoget di atas pentas, namun juga karena hadirnya beberapa penyanyi dan musisi untuk mengiringinya menyanyi. Seperti: Fariz RM, A. Rafiq, Sophia Latjuba dan Arry Lasso. Lewat konsernya tersebut, salah satu single dalam album DEKADE yang berjudul : "Seperti Yang Kau Minta", masuk lagi dalam ajang jenjang tembang MTV AMPUH. Padahal single ini sudah pernah masuk sebelumnya.

Di bulan Oktober 2004, Chrisye melepas album SENYAWA. Sebuah album kolaborasi unik, dimana lewat album ini Chrisye mencoba "masuk" menjadi vokalis dari berbagai grup musik papan atas di tanah Air.

Sebuah kabar yang menyedihkan bagi kita semua terdengar di bulan Agustus 2005. Chrisye harus beristirahat total dari semua kegiatan menyanyi, baik di studio maupun panggung. Chrisye di-diagnosa mengidap penyakit Kanker Paru-Paru. Setelah menjalani Kemoterapi sebanyak enam kali di Singapura, Alhamdulilah kesehatannya saat ini mengalami banyak kemajuan pesat. Dan yang lebih menggembirakan lagi, bahwa kanker dalam paru-parunya sudah berangsur-angsur mengecil.

Setelah hampir 1 tahun absen dari gemerlapnya panggung dan televisi, pada hari Minggu tanggal 28 Mei 2006, di stasiun TV Indosiar, Chrisye memulai debut menyanyinya kembali di depan umum. Kali ini Chrisye tampil sebagai bintang tamu dalam acara 1 Jam bersama UNGU.

Pada tanggal 17 Februari 2007, Chrisye meluncurkan biography yang berjudul "Chrisye: Sebuah Memoar Musikal". Sebuah Biography yang ditulis oleh Alberthene Endah.

Setelah 2 tahun berjuang melawan sakitnya, Chrisye akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tenang pada hari Jum'at tanggal 30 Maret 2007, pukul 4.08 WIB. Jenazahnya dikebumikan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.
Album:

SEBUAH NAMA SEBUAH CERITA...PETERPAN

Tahun 2000 merupakan titik awal dalam perjalanan karir musik 6 anak muda Bandung ini, karena pada saat itulah mereka bersama-sama membentuk sebuah band yang kemudian diberi nama Peterpan. Formasi mereka saat itu adalah Andika (keyboard), Ariel (vokal), Uki (gitar), Lukman (gitar), Indra (bass), dan Reza (drum). Secara resmi, Peterpan terbentuk pada tanggal 1 September 2000.
Harapannya sederhana. Mereka hanya ingin menjadi home band café ternama. Tahun 2001, Peterpan mulai merambah beberapa café antara lain O’Hara Tavern dan Sapu Lidi yang menjadi tempat mereka menyajikan lagu-lagu alternative rock, seperti Pearl Jam, Creed, Cold Play, dan lain lain. Permainan mereka menarik perhatian Noey Java Jive yang sedang mencari band baru untuk album kompilasi dari Musica Studios. Mereka mengirimkan demo berisi 3 lagu, yaitu Sahabat, Mimpi yang Sempurna dan Taman Langit. Akhirnya lagu Mimpi yang Sempurna terpilih untuk mengisi album kompilasi Kisah 2002 Malam. Mimpi yang Sempurna menjadi lagu andalan album kompilasi ini dan mendongkrak angka penjualan hingga 150.000 kopi. Lagu ini masuk ke dalam jajaran tangga musik di banyak radio nasional, dan menjadi lagu wajib para pengamen jalanan. Suatu harapan lain dari Peterpan mulai terwujud sedikit demi sedikit. Musik mereka mulai beterbangan dan bisa dinikmati oleh hampir semua orang di seluruh negeri.
Sukses tersebut membuka kesempatan baru bagi Peterpan. Tahun 2003, Peterpan, di bawah label Musica Studio, meluncurkan debut album Taman Langit. Dengan variasi sound yang apik, kesederhanaan lirik, kekhasan vocal Ariel yang disajikan Peterpan dalam album debut ini, musik Peterpan dengan mudah meresap di telinga penggemar musik Indonesia. Album debut Taman Langit meraih penghargaan Multi Platinum Award dan SCTV Award sebagai Album dan Band Pendatang Baru ngetop.
Mei 2004, Peterpan kembali masuk studio rekaman untuk mempersiapkan album ke-2 mereka yang direncanakan rilis pada bulan Agustus. Dalam tahap akhir persiapan album, demi penghargaan mereka pada para sahabat Peterpan, mereka menggelar konser di 6 kota di Jawa dan Sumatera dalam waktu 24 jam pada tanggal 18 Juli 2004. Konser bertajuk “Breaking The Record, Konser Untuk Sahabat” dimulai di Medan, lalu dilanjutkan ke Padang, Pekanbaru, Lampung, Semarang, dan diakhiri di Surabaya. Konser ini juga diakui sebagai salah satu rekor MURI.
Agustus 2004, Peterpan merilis album ke 2 Bintang di Surga. Seminggu setelah peluncuran album, Bintang di Surga mencapai angka penjualan 1 juta copy dengan single pertama Ada Apa Denganmu. Sebutan A Phenomenon Band pun melekat pada Peterpan, yang kemudian mensejajarkan Peterpan dengan band-band papan atas di negeri ini. Pada masa kritis industri musik Indonesia, album Bintang di Surga berhasil mencapai angka penjualan 3 juta kopi, dan meraih penghargaan demi penghargaan. Tak kurang dari 13 penghargaan dari dalam dan luar negeri diraih oleh Peterpan lewat album Bintang di Surga, diantaranya 7 penghargaan AMI AWARD, 2 SCTV Award, Triple Platinum Award, dan Platinum Berkembar Enam dari Malaysia, serta MTV Music Award pada tahun 2005.
September 2005, Peterpan merilis Album Soundtrack film Alexandria, dan lagi-lagi meraih Multi Platinum Award untuk penjualan album soundtrack tersebut dan SCTV Award. Single pertama , tak hanya menembus tangga lagu nasional, tetapi juga dibajak oleh musisi India, diaransemen ulang dan diubah liriknya ke dalam bahasa India. Lagu …. Versi India tersebut dinyanyikan , kemudian masuk dalam tangga lagu nasional India dan menjadi soundtrack film.
Juni 2006, setelah menghadiri penganugrahan MTV Music Award mereka yang ke 2, Peterpan memutuskan rehat panjang untuk mempersiapkan album ke 3 yang rencananya akan dirilis akhir tahun. Tetapi kondisi dan situasi yang terjadi di dalam tubuh Peterpan membuat rencana tersebut tak dapat berjalan.
Oktober 2006, Peterpan retak. Indra dan Andika keluar dari Peterpan, karena adanya ketidaksamaan visi dalam bermusik dengan, Ariel, Uki, Lukman, dan Reza. Masalah demi masalah bermunculan menghantam Peterpan. Tetapi 4 personil yang tersisa di Peterpan tetap bersemangat untuk menyelesaikan album ke 3 mereka.
Mei 2007, setelah vakum hampir 1 tahun, Peterpan merilis album ke 3, Hari yang Cerah. Gaya bermusik dan aransemen yang agak berbeda dari album-album sebelumnya, Peterpan semakin memperlihatkan kematangan mereka dalam bermusik. Pada album ini, Peterpan melibatkan 2 additional band, David (keyboard) dan Lucky (bass). Saat ini, album Hari Yang Cerah telah membukukan angka penjualan di atas 500.000 copy. Di sela-sela jadwal promo yang padat, Peterpan mendapat undangan untuk mewakili Indonesia di ajang Asia Song Festival yang ke-4 di Korea Selatan pada September lalu. Dari Korea, Peterpan membawa oleh-oleh penghargaan Best Contribution Award.
Waktu dan perjalanan yang panjang...sejak 6 orang anak muda Bandung mengawali karir musik mereka lewat sebuah album kompilasi Kisah 2002 Malam, lewat sebuah lagu berjudul Mimpi yang Sempurna.
To be continued ...
sumber : www.newpeterpanband.com
Album:

SEKILAS TETANG D'MASIV

Sedikit cerita tentang d’Masiv….

BICARA skill, band Jakarta bernama D’Masiv ini sebenarnya sudah khatam. Mereka termasuk band festival di Jakarta yang memilih progresif rock sebagai pijakan bermusik. Semua personilnya --dulu-- kerap pamer skill individu untuk menarik perhatian penonton. "Memang, dulu kita ikut sering festival yang biasanya rock progresif," kata Rian, vokalis, ketika ngobrol dengan beberapa waktu lalu.

Personil lainnya, seperti Kiki [gitar], Rama [gitar], Ray [bass] dan Wahyu [drum], termasuk musisi yang awalnya juga kerap mengumbar skill. "Dulu kita memang terpengaruh band-band keras dan mengandalkan skill, seperti Dream Theatre. Jadi bawaannya mau main skill saja," aku Rian jujur. Malah ketika mereka merilis album perdana berjudul ’Menuju Nirwana’ lewat jalur indie, nyaris semua lagunya bermain di area progresif. "Album itu memang kita garap waktu kita masih SMA dan tanpa music director. Jadi memang kencang terus," kenang Rian soal album yang rilis tahun 2004 silam.

Seiring waktu, D’Masiv ternyata menyadari ada kelemahan dari apa yang mereka tonjolkan waktu itu. "Orang tidak bisa menikmati musik kita," tambah Rian. Lama-lama mereka memilih berkiprah di pop-rock dengan lirik dan lagu-lagu yang lebih bisa didengar dengan enak. "Bukan berubah, tapi proses pendewasaan musikalitas kita juga," tambah Rian.

Pilihan band yang terbentuk tahun 2003 ini pun berujung sukses. Mereka terpilih sebagai juara pada helatan salah satu ajang musik nasional. Sebagai kampiun, D’Masiv memang punya skill dan performance yang apik. Secara fashion juga tampaknya sudah dipersiapkan dengan matang.

Sebagai juara, mereka berhak atas album utuh dan tur selama setahun bareng sponsor. Diawali dengan album kompilasi yang juga menjagokan single mereka. "Ya kita sih berharap lagu-lagu yang kita buat ini bisa diterima dengan lebih baik," tegas Rian lagi



Sumber : Artist Management Album:

Profile Iwan Fals

Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gambang menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangis

Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi.

Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.

Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia. Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.

Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kok kayak gini steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.

Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku.
Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar. Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones. Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada nggak diterima di pergaulan, sementara aku nggak bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek, yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.

Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.

Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.

Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku lebih banyak tercurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.

Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu, dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.

Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu aku baru sadar kalau ternyata lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaanku.

Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian dibredel.

Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.

Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam, diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses. Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak-anak muda.

Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu, musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani Willy Soemantri.
 
sumber : www.iwanfals.co.id